SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI KUA BEBER CIREBON .....

Jumat, 13 Februari 2015

UPAYA MENUMBUHKAN CINTA DAN KASIH SAYANG SUAMI ISTRI

Islam telah memberikan panduan kehidupan yang lengkap bagi umat manusia, sampai urusan yang sangat detail dan renik dalam konteks pribadi, keluarga, masyarakat maupun urusan kenegaraan. Salah satunya adalah panduan tentang kehidupan berumah tangga, dimana Islam mengajarkan suatu interaksi yang dipenuhi cinta, kasih sayang serta kebaikan antara suami dengan istri.
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menyebutkan paling tidak ada tiga tujuan perkawinan. Pertama, untuk melestarikan dan mengembangkan keturunan dalam rangka melanjutkan kehidupan manusia di bumi. Kedua, untuk menyalurkan hasrat fitrah kemanusiaan agar mendapatkan kenikmatan jasmani dan rohani, serta menjaga fungsi reproduksi.  Ketiga,  untuk menciptakan ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan.
Arahan Islam untuk Menumbuhkan Cinta, Kasih Sayang dan Pergaulan yang Baik Antara Suami dan Istri
Islam telah memberikan pondasi yang kokoh agar suami dan istri selalu berusaha untuk membangun kehidupan yang harmonis serta bahagia.  A’la Rotbi dalam tulisannya “Mu’asyaroh Bil Ma’ruf” mengungkapkan, di antara pondasi untuk membangun hubungan yang harmonis antara suami dan istri itu tersebut dalam firman Allah surat An Nisa’ ayat ke 19:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آَتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.
Ayat  لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهً terkait dengan kebiasaan sebahagian masyarakat Arab Jahiliyah. Pada masa itu, apabila seorang lelaki meninggal dunia, maka anak tertua atau anggota keluarga yang lain berhak mewarisi jandanya. Janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi.
Dalam kitab tafsirnya Al-Qurtubi menjelaskan, maksud ayat ini adalah menghilangkan adat kebiasaan jahiliyah dan bahwa wanita tidak boleh dijadikan seperti harta yang dapat diwarisi dari suaminya. Sedangkan Ibnu katsir menjelaskan, ayat ini mencakup berbagai kebiasaan masyarakat jahiliyah tersebut.
Sedangkan ayat, “وَلَا تَعْضُلُوهُنّ“, Allah Ta’ala mengarahkan pembicaraan kepada para suami yang berlaku jelek, kasar atau zhalim terhadap istrinya. Maksudnya : seseorang memiliki istri yang ia tidak sukai padahal sudah diberikan mahar, lalu ia susahkan wanita itu agar mau menebus dirinya dengan mahar tersebut. Demikian dikatakan Adh-Dhahak dan Qatadah serta Ibnu jarir.
Pada penggalan ayat   وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ Allah memerintahkan para suami untuk bergaul secara baik dan patut dengan istri (mu’asyarah bil ma’ruf). Kata al-ma’ruf artinya segala sesuatu yang dimaklumi atau dikenali kepatutan, kebaikan atau kebenarannya, menurut aturan Allah dan Rasul-Nya, maupun ukuran kemanusiaan dan masyarakat pada umumnya. Para ulama memahami  kalimat وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِsebagai perintah untuk berbuat baik kepada istri yang dicintai ataupun tidak dicintai.  Kata ma’ruf mencakup tidak mengganggu, tidak menyakiti, tidak memaksa, tidak berlaku kasar, dan selalu berbuat baik kepada istri.
Dalam kitab tafsirnya Ibnu Katsir menjelaskan, “Baguskanlah perkataan kalian kepada istri kalian, perbaikilah tingkah laku dan penampilan kalian sebatas kemampuan kalian. Sebagaimana kalian senang istri kalian berlaku seperti itu, maka berlakulah seperti itu pula. Hal ini sesuai dengan firman-Nya : “Bagi istri berhak mendapat kebaikan seperti kewajibannya” dan sabda Nabi : Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya. Dan akulah yang terbaik terhadap istri”.
A’la Rotbi dalam tulisannya “Mu’asyaroh Bil Ma’ruf” mengungkapkan, upaya menumbuhkan cinta, kasih sayang dan pergaulan yang baik antara suami dan istri hanya bisa dicapai apabila menggunakan beberapa landasan berikut :
1. Suami dan istri adalah pasangan, sebagaimana dalam QS. Ar-Ruum : 21. وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri.”
2. Suami atau istri adalah pakaian bagi lainya, sebagaimana QS. Al-Baqarah : 187. أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّلِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka”.
3. Suami adalah pemimpin bagi istrinya, sebagaimana QS. An-Nisa : 34. الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”.
4. Istri adalah ladang untuk suaminya, sebagaimana QS. Al-Baqarah : 223 نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu”.
Selanjutnya, Allah berfirman  فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا. Maknanya, jika suami mendapatkan sesuatu yang tidak disukai pada istrinya dan sangat membenci hal itu serta tidak nyaman dekat dengannya, namun dia tidak melakukan perbuatan keji dan nusyuz, maka hendaknya ia bersabar atas hal tersebut, sebab bisa saja ini merupakan sesuatu yang baik baginya. Ayat ini mengarahkan para suami agar selalu fokus melihat sisi kebaikan sang istri, dan bisa toleransi atas kekurangan dan kelemahan yang dimiliki istri.
142379026245963192
ilustrasi : https://www..confettidaydreams.com
Contoh-contoh Sikap untuk Menumbuhkan Cinta, Kasih Sayang dan Pergaulan yang Baik Antara Suami dan Istri
Ada sangat banyak sikap dan perbuatan yang bisa menumbuhkan serta menguatkan cinta dan kasih sayang antara suami istri. Abu Al-Hameed Rabe’ dalam buku “Bait Al Muslim Al Qudwah” menyebutkan berbagai macam contoh sikap dan perbuatan positif terhadap pasangan untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang. Di antaranya adalah:
1. Berusaha untuk selalu fokus melihat kebaikan pasangan
2. Berusaha untuk toleransi terhadap kekurangan dan kelemahan pasangan
3. Berusaha memahami, mengerti dan menerima kondisi pasangan
4. Bersedia berubah dan menyesuaikan diri dengan harapan pasangan
5. Berusaha menghindari kritik terus menerus terhadap suatu sifat atau kondisi pasangan yang tidak disukai, termasuk menghindari komentar spontan terhadap hal yang tidak disukai dari pasangan walaupun bertujuan untuk mengubah atau memperbaikinya
6. Saling memuji pasangan dengan tulus
7. Saling memberikan yang terbaik untuk pasangan demi kebaikan bersama
8. Saling mengalah kepada pasangan demi kebaikan bersama
9. Saling memberikan hadiah terutama pada peristiwa atau momen khusus
10. Menyempatlkan waktu untuk bercengkerama, mengobrol, atau berdiskusi dengan pasangan
11. Bersedia menganggap kekurangan dalam kehidupan keluarga adalah tanggung jawab bersama
12. Terbuka dan bersedia mendengarkan masukan dan nasihat dari pasangan
13. Berusaha melembutkan suara dan tidak meninggikan suara saat berbicara kepada pasangan
14. Bersedia meminta maaf dan memaafkan pasangan
15. Saling memanggil dengan nama atau panggilan kesayangan
16. Mengucapkan salam dan bermuka cerah ketika pulang ke rumah dan bertemu pasangan
17. Saling menguatkan dalam ibadah
18. Mengusahakan tabungan keluarga, misalnya untuk melaksanakan haji, umrah, infak atau untuk keperluan lainnya
19. Melaksanakan refreshing untuk menyegarkan suasana
20. Menjaga aib dan rahasia pasangan terhadap orang lain
21. Saling mendoakan untuk kebaikan pasangan
22. Bersedia untuk membahas persoalan kerumahtanggaan bersama pasangan
23. Lebih mengutamakan pasangan dibandingkan dengan urusan sepele lainnya, misalnya dalam urusan komunikasi
24. Tidak mudah menuduh dan menghakimi pasangan
25. Tidak meremehkan dan menghina pendapat pasangan
26. Tidak mengkritik atau memarahi pasangan di hadapan orang banyak
27. Tidak melukai hati pasangan dengan tindakan dan kata-kata, termasuk ketika sedang marah
28. Tidak mencela kelalaian pasangan dalam menunaikan kewajiban
29. Tidak membandingkan pasangan dengan orang lain, contohnya : tidak membandingkan cita rasa masakan istri dengan cita rasa masakan orang lain, atau membandingkan bentuk fisik pasangan dengan orang lain.
30. Tidak berlebihan memuji kelebihan orang lain atau menampakkan kekaguman kepada orang lain di hadapan pasangan
Tentu saja masih sangat banyak contoh sikap dan perbuatan yang bisa menumbuhkan cinta dan kasih sayang antara suami dan istri. Pada intinya, segala yang baik, patut, bijak dan benar, bisa dilakukan demi membahagiakan pasangan. Dengan cara itu, tujuan pernikahan sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al Ghazali di atas bisa terwujud dengan optimal.
Bahan Bacaan :
Abu Al-Hameed Rabe’, Bait Al Muslim Al Qudwah : Membumikan Harapan Keluarga Islam Idaman, Penerbit : LK3I, Jakarta, 2011.
sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2015/02/13/upaya-menumbuhkan-cinta-dan-kasih-sayang-suami-istri-723085.html

Rabu, 11 Februari 2015

MENEMANI AKTIVITAS SUAMI, PENTINGKAH?

Beberapa waktu terakhir ini saya fokus pada pembahasan karakter istri salihah. Pada kesempatan kali ini, saya akan menambahkan satu catatan kecil tentang pentingnya istri menemani aktivitas suami. Tentu saja bukan berarti seluruh aktivitas suami harus ditemani, namun ada beberapa aktivitas suami yang penting untuk dibersamai istri. Akan menjadi hal yang membahagiakan dan membanggakan suami, jika istri bersedia menemaninya melaksanakan aktivitas tertentu. Apalagi jika kebersamaan istri dilakukan dengan penuh ketulusan hati, tanpa rasa keterpaksaan.
Bagi kalangan pejabat atau orang penting, biasanya istri menemani suami dalam aktivitas kedinasan yang menghajatkan kesertaan istri. Misalnya saat serah terima jabatan, atau acara family gathering yang diselenggarakan oleh instansi, dan lain sebagainya. Namun sesungguhnya, dalam aktivitas yang terkesan tidak penting –bahkan spontan sekalipun— ada banyak manfaat menemani suami. Konteksnya adalah untuk menjaga dan menguatkan keharmonisan hubungan suami dan istri. Di sisi lain, hal ini juga bermanfaat untuk menghindari kebosanan hidup berumah tangga.
Pada pasangan suami istri yang sudah menjalani kehidupan berumah tangga di atas sepuluh tahun, harus semakin pandai merawat cinta kasih di antara mereka. Karena seiring berjalannya waktu, bisa muncul perasaan bosan dan jenuh, karena terjebak dalam rutinitas kehidupan keseharian. Pola komunikasi dan interaksi suami isteri yang monoton dan tidak variatif, membuat mereka bisa mengalami kejenuhan.
Untuk itu, diperlukan sejumlah sentuhan variasi yang membuat suami dan istri sama-sama merasakan kebaruan dan semangat untuk menjalani kehidupan keluarga. Namun kadang keinginan untuk menciptakan variasi suasana, tidak bersambut oleh pasangan. Satu pihak menghendaki suasana yang berbeda dengan melakukan sejumlah aktivitas rekreatif, namun tidak disambut oleh pasangan.

Melawan Bosan, Harus Kompak
Sepasang suami istri yang sudah berusia di atas empatpuluh tahun datang ke Jogja Family Center (JFC) untuk berbincang tentang situasi yang mereka hadapi. Sebut saja namanya Budi dan Novie. Budi mengeluhkan Novie yang pasif, dan tidak suka diajak melakukan kegiatan rekreasi. Sementara Novie mengeluhkan sikap Budi yang dianggap spontanis serta tidak punya perencanaan.
“Saya sangat ingin pergi berduaan dengan istri. Jalan-jalan santai atau berboncengan naik motor berdua, atau kencan untuk makan malam berdua. Namun hal itu sangat sulit dipenuhinya. Ada saja alasan untuk menolak ajakan saya dengan berbagai kesibukan atau dengan mempersoalkan keuangan”, ungkap Budi.
“Sebenarnya saya juga ingin berduaan dengan dia. Tapi yang membuat saya tidak suka adalah ketidakjelasannya. Dia tidak pernah bisa menjelaskan kita akan pergi kemana. Saya tidak mau seperti itu. Saya orangnya teratur, kalau pergi harus jelas mau kemana”, ungkap Novie.
“Saat saya ajak makan malam keluar rumah, misalnya, ada saja alasan untuk menolak. Yang jauh lah, yang mahal lah, yang boros lah, dan alasan-alasan lainnya. Dia bilang, ngapain untuk makan malam saja harus pergi jauh-jauh. Makan di rumah saja, gak usah bayar, begitu terus alasannya”, tambah Budi.
“Sifat itu juga yang saya tidak suka dari dia. Sok berlagak kaya, mau ngajak makan keluar segala, padahal tanggungan cicilan bayar rumah masih banyak. Mengapa tidak ditabung saja uangnya untuk tambahan bayar tagihan”, sergah Novie.
“Saya tidak berlagak kaya. Saya hanya ingin melawan kebosanan, agar hidup selalu menyenangkan dan tidak monoton. Ini kan Cuma sesekali waktu, tidak setiap hari. Bahkan belum tentu sepekan sekali. Ini hanya variasi, sesekali makan melam keluar, atau sesekali jalan-jalan berdua. Apa ini hal yang susah?” Budi tidak mau mengalah.
Wah, tidak akan ketemu kalau sikap keduanya terus menerus seperti ini. Harus diurai satu per satu, dan harus saling menyesuaikan dengan harapan pasangan. Jika masing-masing bersikukuh dengan keinginan dan pendiriannya, tentu tidak akan pernah bisa disatukan. Untuk melawan bosan dalam kehidupan berumah tangga, harus dilakukan bersama-sama. Harus kompak, tidak bisa dilakukan sendirian.

Tujuan, Bukan Saja Soal “Kemana”
Jika anda hendak bepergian bersama pasangan, perhatikan tujuan anda. Namun harus diingat, tujuan itu bukan selalu soal “kemana” anda bepergian, tapi juga “untuk apa” anda bepergian. Ada jenis perjalanan yang memang memerlukan kejelasan tujuan lokasi. Seperti pergi silaturahim ke rumah orang tua atau mertua, pergi tamasya ke pantai, dan lain sebagainya. Sebuah perjalanan yang memerlukan kejelasan definisi tempat tujuan.
Pada jenis perjalanan yang pertama ini, memang harus jelas dan detail perencanaannya. Hal ini menyangkut persiapan teknis terkait transportasi, akomodasi dan lain sebagainya. Tidak bisa spontan tanpa perencanaan. Apalagi ketika perjalanan yang jauh dan memerlukan waktu beberapa hari di tempat tujuan, tentu harus semakin matang persiapannya.
Seorang istri mengeluhkan sikap suami yang tiba-tiba mengajaknya pergi ke Singapura. Padahal tidak pernah ada rencana sebelumnya, sang suami telah membeli tiket liburan ke Singapura beserta istri dan dua anaknya. Meskipun liburan ke Singapura merupakan sesuatu yang menyenangkan, namun jika tidak ada persiapan yang matang, akan bisa mengurangi kebahagiaannya.
Tetapi ada pula perjalanan yang bertujuan untuk meningkatkan keharmonisan serta keintiman suami istri. Pada jenis perjalanan ini, bukan lagi soal “kemana” namun “untuk apa”. Pertanyaan “kemana” tidak lagi penting, tapi lebih penting “bagaimana” keharmonisan dan keintiman bisa terwujudkan. Sekedar naik motor berdua keliling kota, atau menyusuri jalan-jalan desa yang asri dan alami, menjadi aktivitas yang menarik dan menyenangkan bila dinikmati berdua.
Sepertinya mereka “tidak kemana-mana”, hanya berkeliling kota saja. Bukan menuju ke sebuah lokasi tertentu. Tapi membuat kegiatan menyenangkan bersama pasangan. Tempat atau lokasi tertentu tidak lagi menjadi hal yang penting. Yang paling penting adalah menciptakan suasana yang menyenangkan bersama pasangan. Pada jenis perjalanan yang kedua ini, bisa dilakukan dengan spontan tanpa harus ada perencanaan yang detail. Karena sifatnya yang insidental, dan tidak memerlukan waktu yang lama maupun tempat yang jauh.
Tentu saja ini tidak dilakukan setiap hari. Ini hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang senggang dan luang saja. Kegiatannya juga menyesuaikan dengan ketersediaan budget saat itu. Tidak perlu mengada-ada atau memberatkan dari segi keuangan. Bahkan banyak kegiatan bisa dilakukan tanpa biaya. Naik sepeda kayuh berdua keliling kota atau keliling desa, sambil olah raga, tentu tidak memerlukan biaya. Cobalah untuk menempatkan secara tepat situasi perjalanan yang berbeda sifatnya tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk menguatkan keharmonisan hubungan dengan pasangan.

Adalah Penting Untuk Melakukan Hal Yang Tidak Penting
Jika harus melakukan sesuatu aktivitas yang spontan, untuk menyenangkan suami, mengapa istri tidak bersedia melakukannya? Temani aktivitas suami yang seakan-akan tidak penting itu. Dalam kehidupan rumah tangga, di antara hal penting bagi suami istri adalah melakukan hal-hal yang tidak penting. Ya benar. Jangan hanya berpikir melakukan hal-hal penting saja dalam kehidupan berumah tangga.
Coba perhatikan. Naik sepeda motor tua, berkeliling kota atau desa, tidak menuju ke suatu tempat istimewa, suami dan istri berdua saja, seakan-akan tidak penting dan “tidak ada gunanya”. Padahal itu sangat penting untuk merawat dan menyuburkan cinta. Berdua saja pergi kemah ke hutan atau gunung wisata, sepertinya pekerjaan yang tidak penting dan tidak banyak manfaatnya. Padahal itu sangat penting untuk menjaga dan mempertahankan keharmonisan dalam keluarga.
Jika keluarga hanya melakukan “hal-hal penting” saja, seperti bekerja mencari nafkah, mengurus kenaikan pangkat, mengusahakan kenaikan karier, mengusahakan tambahan pekerjaan, melakukan lobi untuk mendapatkan tambahan order, membaca buku-buku berbobot, mengikuti diklat dan berbagai kursus ketrampilan, dan aneka hal penting lainnya, akan membuat situasi kejenuhan dan kebosanan. Maka sesekali waktu harus bersedia melakukan hal-hal yang dianggap tidak penting, atau terkesan sekedar sebagai aktivitas iseng, padahal membawa sangat banyak manfaat positif dalam kehidupan berumah tangga.
Menemani beberapa aktivitas suami, kadang dianggap tidak penting oleh para istri. Seakan-akan itu hanya bagian seremonial, atau sekedar untuk kepantasan, atau untuk mengisi waktu kosong. Padahal menemani aktivitas suami memiliki manfaat yang sangat besar dalam menjaga dan menguatkan keintiman dan keharmonisan hubungan suami istri.

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2015/02/11/menemani-aktivitas-suami-pentingkah-722569.html