SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI KUA BEBER CIREBON .....

Jumat, 21 Oktober 2011

SUMBER-SUMBER KONFLIK DALAM KEHIDUPAN PASUTRI


Materi Pembinaan keluarga sakinah
Oleh : Maskum S.Ag. MA
Pendahuluan

Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dengan melihat tujuan dari perkawinan tersebut, yang tergambar dalam bayangan kita adalah kebahagian dan ketenangan hidup berumah tangga dan itu adalah harapan semua orang yang berumah tangga. Rasanya tidak akan ada sebuah keluarga  yang antara suami dan istrinya terjadi pertengkatan terus menerus, namun kadang-kadang jauh panggang dari api yang terjadi justru rumah tangga selalu “gudreg’ bahkan sampai berujung tragis yakni perceraian, meskipun perceraian itu dibolehkan dan halal akan tetapi perbuatan itu sebenarnya dibenci Allah.
 Setiap keluarga memiliki masalahnya masing-masig yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sehingga pada kenyataannya tidak sedikit keluarga selalu bertengkar yang kadang-kadang pertengkaran itu terjadi dari hal yang spele, ada juga rumah tangga yang kelihatannya dari luar adem ayem, bahagia, sejahtra, tapi di dalamnya ibarat api dalam sekam. Bagi keluarga muslim jauhilah pertengkaran itu sebab ‘rumah tangga yang selalu didalamnya ada pertengkaran antara suami dan istrinya itu akan menyebabkan jauhnya rezeki’.
Emosi marah biasanya muncul karena adanya masalah yang membuat seseorang bangkit emosi marahnya. Sesungguhnya masalah apapun akan jadi pertengkaran dalam rumah tangga jika kita tidak bisa melakukan manajemen emosi dalam  rumah tangga, dengan demikian kita di tuntut dapat mengatur emosi agar tidak mudah terpancing dan tetap stabil serta proporsional dalam hal marah.
Pada proses adaptasi biasanya muncul konflik-konflik antara suami dan istri yang berujung dengan pertengkaran. Hal ini dikarenakan proses adaptasi awal pada saat “berpacaran” (dalam bahasa agama disebut ta’aruf) adalah adaptasi yang semu.
Dikatakan semu karena Masing-masing masih menyembunyikan karakter dan tabiat aslinya. Akan tetapi berbeda setelah jadi suami istri, proses adaptasi itu bersifat riil sebab masing-masing akan mengetahui karakter serta tabiat asli dari pasanyanya itu, sebab kita mengetahui pasangan hidup kita dari sejak bangun tidur hingga tidur lagi.
Sesungguhnya konflik dalam keluarga akan muncul dengan berbagai latar belakang kejadian seperti karena :

-          Mis komunikasi
-          Anak.
-          Stress dengan pekerjaan
-          Cemburu
-          Ekonomi
-          Orang Ketiga (mertua, selingkuh)
-          Akhlak (pemabuk, penjudi)
-          Beda Agama

Mis komunikasi

Sebuah keluarga baik yang baru menikah maupun yang sudah lama menikah, pasti akan selalu mengalami proses adaptasi yang terus menerus selama kehidupan rumah tangga kita berlangsung. Hal ini dikarenakan hidup ini adalah proses  dan problem dan selama prose situ, problempun akan muncul dalam keseharian kita, baik itu problem yang datangnya dari dalam diri kita maupun yang datang dari luar.
Pada saat proses adaptasi antara suami dan istri ini akan muncul sikap yang disukai dan tidak disukai oleh kita. Ketika pasangan kita melakukan perbuatan yang tidak kita sukai pada umumnya akan bersikap  sinis dan melakukan protes atas perbuatan yang dilakukan pasangannya itu, akan tetapi ada juga yang tidak bereaksi dan memilih diam dan menyimpannya dalam hati.
Ketika sesuatu yang tidak disukai itu dilakukan oleh pasangan kita, maka kita mungkin akan  bereaksi sepontan dengan melakukan protes jangan begitu jangan begini, tapi mungkin juga kita hanya diam dan menyimpan dalam hati. Ketika kita protes langsung mungkin akan lngsung mendapat reaksi pula dari pasangan kita yang kita protes itu, akan tetapi mungkin juga dia tidak bereaksi tapi mungkin diam menerima kesalahan, akan tetapi bisa jadi juga mungkin diam-diam menyimpannya dalam hati.
Untuk menghindar dari konfilk karena tersumbatnya komunikasi, maka sebaiknya kita selalu melakukan komunikasi dua arah antara kita dengan pasangan kita dalam setiap kesempatan. Kita bahas hal-hal yang kita tidak sukai dari pasangan kita itu dengan saling terbuka. Kemukakan hal-hal yang tidak disukai dari pasangan kita itu, sehingga pasangan kita mengerti apa yang tidak disukai dari dirinya oleh pasangannya itu. Jangan simpan sesuatu dalam hati ketika pasangan kita melakukan perbuatan yang tidak kita sukai sebab itu akan menjadi bom waktu.
Usahakan pasangan kita tau apa keinginan dan harapan kita dari pasangan kita itu, jangan pernah memendam permasalahan sampai berlarut-larut sekecil apapun masalah itu, sebab hal itu akan memiliki ekses negative untuk keharmonisan rumah tangga kita.
Yang terpenting kita lakukan adalah persoalan cara dalam menyampaikannya, lakukanlah dengan musyawarah, diskusi yang sehat dengan hati jernih, suasana yang tenang, dan jangan bawa masalah sampai ke ranjang sebab itu akan mengganggu hubungan intim suami istri.


Anak

Anak adalah karunia ilahi yang tiada ternilai harganya, tiada kebahagiaan sebuah rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak. Anak dalam keluarga adalah pelipur lara penghilang rasa letih dan dahaga hati. Kasih sayang orang tua terhadap anak kadang melebihi daripada kasih sayang kita kepada pasangan kita.
Bukti bahwa anak sebagai obat hati pelipur lara, adalah berdasarkan pengalaman para orang tua dan orang-orang yang berkeluarga dan sudah memiliki keturunan. Hilang rasanya rasa letih setelah seharian bekerja kemudian pulang kerumah dan bertemu anak, terutama jika anak itu masih dalam masa momongan dan sedang lucu-lucunya untuk diajak bercanda
Akan tetapi jangan dikira bahwa persoalan anak-pun bisa menjadi sumber masalah antara suami dan istri dalam sebuah keluarga, bahkan kita bisa bertengkar dengan tetangga gara-gara anak-anak.
Contoh anak jadi masalah umpamanya ketika seorang ayah yang bertindak tegas kepada anaknya dengan memberikan hukuman karena ia berbuat salah, kemudian si ibu tidak setuju dengan hukuman yang diberikan ayahnya, lantas di depan anak si Ibu membela anak dan memaki sang ayah.
Kejadian seperti tersebut tadi bukan saja menjadi pertengkaran antar suami istri, akan tetapi berakibat buruk kepada si anak karena merasa dirinya ada yang membela sehingga ia akan cenderung mengulang kesalahannya itu karena dalam prem pemikirannya toh kalaupun dia salah tetap ada yang membela yaitu sang ibu yang terlalu memanjakan anaknya. Kejadian semacam ini bisa juga terbalik justru sang ayah yang terlalu sayang tanpa aturan kepada anak, sementara si Ibu yang di marahi sang ayah karena menghukum anaknya.
Lebih-lebih jika orang tua yang selalu membela anaknya meskipun salah, ketika anaknya bermasalah dengan anak tetangganya, maka yang terjadi selanjutnya adalah bertengkar antar orang tua, sementara anaknya sudah main kelereng bareng  dan main lompat tali atau main petak umpet dan mainan lainya, sementara orang tuanya selalu bermusuhan gara-gara anak yang bertengkar.
Sikap yang harus kita lakukan adalah sikap proporsional, adakalanya kita harus marah tapi adakalanya juga kita harus lembut, akantetapi jangan coba-coba membela anak ketika anak itu mendapatkan hukuman selagi tidak membahayakan jiwa dan raganya.
Contoh kecil lain umpamanya anak salah kemudian dihukum dengan tidak diberi uang jajan, akan tetapi diam-diam salah satu diantara kita yang tidak menghukum ternyata dibelakang kita memberinya uang jajan, maka selanjutnya jangan harap anak akan cepat punya rasa tanggung jawab  dan takut dengan hukuman sebab masih ada yang membelanya, yang jadi masalah baru jika pasangan kita tau, maka terjadilah pertengkaran dalam keluarga gara-gara anak.


Stress Karena Pekerjaan

            Pekerjaan bisa juga jadi sumber pertengkaran dalam keluatga ketika kita tidak bisa memilah mana urusan pekerjaan dan mana urusan rumah tangga. Permasalahan di kantor di bawa ke rumah atau sebaliknya permasalahan di rumah dibawa ke kantor, jika sudah terjadi demikian maka akan runyam jadinya. Bukan saja bermasalah dengan orang rumah tetapi kita juga bisa bermasalah dengan kawan-kawn di kantor.
            Seorang suami yang gila kerja atau seorang istri yang juga bekerja dan gila kerja, mengakibatkan lupa hak dan kewajiban suami Istri, apalagi jika ke dua-duanya sama-sama membawa pekerjaan kantor ke rumah, rumah jadi kantor ke dua yang mestinya rumah jadi tempat istirahat dan bercanda ria dengan anggota keluarga yang terjadi justru sebaliknya masing-masing sibuk dengan pekerjaannya yang akibatnya hilang komunikasi dan masing-masing merasa tidak diperhatikan.
Hilangnya perhatian terhadap anggota keluarga, maka akan ada ekses negative. Si anak merasa tidak diperhatikan di rumah dari kedua orang tuanya dia akan mencari perhatian dari orang lain karena tidak mendapatkannya di rumah, yang pada umumnya mereka melakukan kenakalan dalam mencari perhatiannya itu. Si istri merasa tidak diperhatikan oleh suami atau suami merasa tidak mendapat perhatian dari sang istri, maka bisa jadi muncul pemikiran untuk mencari perhatian di luar dari lawan jenisnya dan selanjutnya bisa ditebak apa yang terjadi.
Yang lebih rentan pertengkaran adalah jika suami bekerja, istri tidak bekerja selalu diam di rumah sementara suami penggila kerja, dia selalu sibuk dengan pekerjaannya bahkan dia selalu membawa pekerjaan kantor ke rumah, plus dengan masalah-masalahnya, sementara dia lupa dengan kebutuhan yang diharapkan sang istri yakni perhatian, kasih saying dan juga kehangatan. Ya kalau istri nerima di acuhkan seperti itu kalau tidak kan yang terjadi adalah bertengkar.
Lebih salah lagi jika Suami menganggap beres masalah ketika istri sudah diberinya uang yang banyak dari hasil pekerjaannya itu, sementara dia tidak pernah memberinya perhatian, kasih sayang dan kehangatan, ditambah suami yang jarang pulang, sering ke luar kota karena kesibukannya dalam bekerja, dia hanya memberi kecukupan materi lahiriah sementara dia tidak bisa memberi kecukupan batiniyah maka sang istri dengan materi yang cukup dari suaminya itu dia akan mencari kehangatan lain untuk memenuhi kebutuhan batinnya itu di saat suami tidak dirumah, maka jadilah tante girang dan sejenisnya.
Jika rumah tangga sudah demikian, maka terjadilah kiamat dalam rumah tangga, untuk itu bagi kita yang bekerja aturlah secara proporsional antara pekerjaan  dan perhatian terhadap keluarga. Jangan membawa pekerjaan kantor ke rumah, kalaupun terpaksa harus di bawa ke rumah cukuplah pekerjaannya saja jangan dengan permasalahannya, bangunlah sikap saling pengertian antar anggota keluarga, maka insya Allah takan terjadi permasalahan dalam rumah tangga.
Sumber pertengkaran dalam rumah tangga yang paling rentan adalah ketika masing-masing anggota keluarga tidak bekerja, sehingga pemenuhan kebutuhan ekonomi tidak bisa diatasi, hingga kadang-kadang orang menghalalkan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membuatnya mudah tersinggung, bahkan dalam stadium tinggi orang bisa menggadaikan agamanya yang penting bisa memenuhi kebutuhan hidupnya (kefakiran itu mendekakan kepadai kekufuran), namun tidak semua demikian sebab tidak sedikit orang yang ekonomi pas-pasan dia hidup tenang dengan rumah tangga bahagia, jadi sifatnya relatif.
            Kestabilan ekonomi merupakan salah satu penunjang terwujudnya keluarga sakinah. Kondisi keuangan sebuah keluarga dikatakan stabil apabila terdapat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran.

Cemburu

Cemburu yang dimaksud disini adalah cemburu seorang istri kepada suami atau sebaliknya seorang suami yang cemburu kepada istrinya. Cemburu adalah suatu perasaan yang muncul ketika kita merasa bahwa orang yang kita cintai bersikap lebih mesra, lebih sayang dan  lebih romantis kepada orang lain daripada kepada kita sehingga ada perasaan yang timbul bahwa orang itu akan mengambil orang yang kita cintai atau kita merasa bahwa orang yang kita cintai mulai berpaling kepada orang lain dan kita merasa tidak di perlakukan oleh orang yang kita cintai sesuai dengan porsinya.
Rasa cemburu itu sebenarnya muncul  dikarenakan rasa ketakutan kita akan kehilangan orang yang kita sayangi dan kita cintai. Tapi justru disinilah romantikanya suami istri. Ketika seorang suami tidak punya rasa cemburu kepada istrinya atau seorang istri tidak lagi punya rasa cemburu, malah harus dipertanyakan tentang seberapa besar rasa memiliki yang pasangan kita punya. Hidup rumah tangga tanpa rasa cemburu itu ibarat sayur tanpa garam, pergaulan suami istrinya menjadi hambar karena hilangnya seni dan romantika berumah tangga.
Walaupun demikian rasa cemburu itu harus ada batasannya, jangan sampai over dosis. Jangan sampai gara-gara suami pulang kerja telat kemudian ketika suami datang istri mencak-mencak marah tanpa sebab dan tanpa bertanya lebih dahulu tentang alasan keterlambatanya Curiga yang terus-terusan dan berlebihan justru akan menjadi bencana dalam rumah tangga. Bukannya romantika dan kebahagiaan yang didapat tapi malah justru akan mengurangi rasa cinta pada masing-masing pasangan, lama kelamaan rasa itu akan pudar dan lenyap.
Rasa cemburu bagi suami adalah suatu keharusan, sebab jika suami tidak punya rasa cemburu terhadap istri, berarti sama dengan merelakan istrinya berbuat sesuatu yang dapat menjerumuskannya kedalam kehinaan dan perbuatan kotor. Suami yang demikian berarti dia suami yang  mengabaikan tanggung jawab kepemimpinannya dan tanggung jawabnya kepada istri.
Dalam ajaran Islam menurut Hadits Riwayat (HR) Bazar dan baihaki disebutkan ;
Cemburu itu termasuk sebagian dari iman, dan mizak (memasukan laki-laki lain ke rumah istrinya kemudian dibiarkannya) itu termasuk sifat munafik”
            Cemburu merupakan sebuah alat yang ampuh untuk mempererat keharmonisan rumah tangga kan tetapi cemburu juga merupakan perbuatan yang dapat berujung dengan pertengkaran bahkan perceraian, untuk itu kita harus menghindarkan diri dari hal-hal yang mengakibatkan timbulnya rasa cemburu, baik berupa ucapan, perbuatan dsb.
Untuk menghindarkan diri dari kecemburuan yang tidak benar, caranya adalah masing-masing diantara kita menerapkan ajaran Allah dan rasulnya dalam kehidupan berumah tangga.

Ekonomi

            Ketentraman sebuah keluarga akan sangat dipengaruhi oleh kondisi dan siatuasi ekonomi yang ada dalam keluarga itu, apalagi kehidupan yang dilakoninya di kota yang segala sesuatunya harus dibeli, maka pemenuhan ekonomi sangat besar konstribusinya untuk keharmonisan rumah tangga.
            Konflik-konflik dalam rumah tangga sering terjadi karena alasan suami tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga bahkan berahir dengan tuntutan perceraian dari istri ketika ekonomi keluarga morat marit dan suami tidak berdaya.
            Oleh karena itu bagi pasangan yang akan menikah diusahakan sudah siap untuk dapat memenuhi hajat kebutuhan keluarganya nanti. Jikalau belum siap maka sebaiknya calon pengantin menahan diri.

            Nabi Muhammad pernah bersabda ;

Artinya “Wahai pemuda barang siapa yang mampu dan berkeinginan untuk menikah/ kawin, maka hendaklah dia kawin, karena sesungguhnya perkawinan itu akan memelihara pandangan dari hal yang dilarang untuk dilihatnya.
bersambung ...